Pameran Kain Tenun Sumba dan Makna Spiritual di Baliknya

0
1191

Humas.id, Jakarta — Yayasan Sekar Kawung akan menggelar pameran seni tenun ikat karya seniman-seniman tenun Sumba Timur, Nusa Tenggara Timur pada 1-8 Oktober 2017. Pameran bertajuk Karya Adiluhung Pendorong Ekonomi Lestari ini akan berlangsung di Museum Bank Mandiri, Kota Tua, Jakarta.

Pameran seni tenun ikat Sumba ini akan dibuka Kepala Badan Ekonomi Kreatif Triawan Munaf. Sebagai pembicara utama tokoh lingkungan Emil Salim dan Direktur Jenderal Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Hilmar Farid.

Pameran akan diisi juga dengan kegiatan bazaar, workshop, panduan trip, serta kesempatan berinteraksi dengan seniman-seniman tenun Sumba Timur. Para seniman yang karyanya akan dipamerkan kali ini tergabung dalam Kelompok Tenun Pewarna Alam Paluanda Lama Hamu.

Bukan sekadar kain-kain indah dari Sumba yang akan dipamerkan. Pengunjung akan diajak untuk lebih menyelami nilai-nilai dari anggitan para seniman tenun ikat.

“Mari ikut menguak spiritualitas dan simbolisme di balik seni tenun ikat pewarna alam Sumba Timur,” kata Ketua Yayasan Sanggar Kawung Chandra Kirana.

Seni Tenun Ikat Sumba Timur lahir dari kekayaan alam setempat melalui tangan – tangan seniman yang begitu mencintai warisan leluhurnya. Proses penciptaan kain tenun yang memakai pewarna alam serta pemilihan motif-motifnya yang indah dan sarat makna begitu unik, merepresentasikan budaya masyarakat Sumba Timur yang istimewa.

Bagi orang Sumba, Chandra menjelaskan, kain tenun bukan sekadar kain, namun sesuatu yang sangat penting. Kain memegang peranan di dalam menyambut kelahiran, merayakan pernikahan, atau mengantarkan jenazah orang yang telah meninggal mengawali perjalanannya menuju keabadian.

Dia mencontohkan kain-kain indah dengan lukisan-lukisan udang ditenunkan kedalam rajutannya melalui teknik ikat. Itulah kain yang sering dipakai untuk melambari jenazah. Udang, bagi orang Sumba Timur, melambangkan kebangkitan setelah kematian, kehidupan yang abadi setelah ajal menjemput di dunia fana.

Kain-kain ini semua dimuati dengan doa-doa yang dipanjatkan oleh pembuatnya. Doa disematkan untuk masing-masing peristiwa penting di dalam kehidupan orang yang kelak memakai kainnya itu.

“Saya percaya bahwa perjalanan untuk menyelami kembali kedalaman ini penting untuk meniupkan ruh kebudayaan yang kuat ke dalam diri seniman-seniman tenun dan kita semua,” kata Chandra.

Jadwal Aktifitas Harian :
Selasa, 3 Oktober 2017
Bincang-Bincang ‘Filosofi dan Makna di Balik Kain Tenun

Rabu, 4 Oktober 2017
Bincang-bincang Seni dan Tenun Ikat Sumba
Bincang-bincang 42 Langkah Proses Pembuatan Tenun Ikat

Kamis, 5 Oktober 2017
Bincang-bincang Fotografi Keragaman Hayati di Sumba Timur bersama Anak Desa Lambanapu

Jumat, 6 Oktober 2017
Bincang-bincang Respon Seniman Muda Sekar Bestari terhadap Seni Tenun Ikat
Bincang-bincang Pengembangan Mulok Tenun Ikat Sumba Timur

Sabtu, 7 Oktober 2017
Bincang-bincang Filosofi dan Makna di Balik Simbol Tenun Ikat
Bincang-bincang Wisata Minat Khusus ke Desa Tenun Bersama Jaladwara

Minggu, 8 Oktober 2017
Bincang-bincang 42 Langkah Proses Pembuatan Tenun Ikat
Bincang-bincang Wisata Minat Khusus ke Desa Tenun Bersama Jaladwara

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here