Resensi Buku: Marhajabuan, Membaca Budaya Batak Toba Dalam Buku Puisi

0
33

Humas.id, JakartaNak, telah kubangun rumah. Paling rumah di hatimu yang perdu. Menjadi tempat menyimpan puisi. Dalam jantung yang merdu.

Demikian sepenggal puisi yang terkandung dalam buku puisi tunggal Frans Ekodhanto Purba yang berjudul, “Marhajabuan”. Buku puisi setebal 114 halaman ini merangkum sebanyak 65 judul puisi yang dicipta sejak 2013 hingga 2018. Selain itu, puisi-puisi tersebut berangkat dari tradisi, kebudayaan, kuliner dan tumbuhan-tumbuhan dari Tanah Batak Toba.

Buku antologi puisi tunggal yang kedua Frans Ekodhanto Purba tersebut belum lama ini diluncurkan di Gedung Serba Guna, Galeri Nasional Indonesia Jl. Medan Merdeka Timur, No.14, Gambir, Jakarta Pusat pada 2 November 2018 dengan menampilkan berbagai macam bentuk apresiasi puisi. Beberapa diantaranya, pembacaan dan musikalisasi puisi, monolog-isasi puisi, respon puisi dalam bentuk performance art dan masih banyak lagi bentuk apresiasi puisi lainnya.

Acara peluncuran buku puisi tersebut dimeriahkan dengan penampilan, Sesmenpora, Gatot S Dewa Broto, penyair/teatrawan Jose Rizal Manua, sastrawan/dosen Yvonne De Fretes, penikmat puisi/salah satu karyawan BUMD DKI, Hani H. Sumarno, Dosen Bahasa dan Sastra Indonesia, Yostiani Noor, Komunitas Horjabius, Kromatik dan pertunjukan-pertunjukan lainnya.

Yang jelas, bagi Frans, kebudayaan khususnya Budaya Batak Toba bukan sekadar kewajiban atau bukan sekadar pertunjukan kesenian tradisi biasa. Bagi Frans, tradisi Batak Toba yang dituangkan dalam praktik kesenian, kuliner dan beraneka tumbuhan yang tumbuh di Tanah Batak Toba adalah sesuatu “kekuatan” serta “semangat” yang adiluhung. Akan tetapi, kekuatan dan semangat tersebut, di era kekinian secara lambat namun pasti sudah mulai ditinggalkan oleh penuturnya atau pelakunya.

“Bagi saya, kesenian tradisi dan kebudayaan Batak Toba merupakan ‘kekuatan’, ‘semangat’ serta ‘kompas’ dalam menjalankan hidup dan kehidupan. Hal itu karena di dalam bentuk kesenian peradatan telah diatur norma-norma, mulai dari dalam kandungan hingga seseorang meninggal,” jelasnya.

Yang menarik kemudian, lanjutnya, kesenian tradisi pada umumnya termasuk kesenian tradisi Batak Toba, secara perlahan mulai ditinggalkan atau bahkan dilupakan atau bahkan tidak dikenal lagi. Dalam hal ini, ia tidak sedang mencari siapa yang salah atau mengkambinghitamkan seseorang atau kelompok tertentu. Akan tetapi, melalui buku puisi tunggal Marhajabuan ini, Frans ingin semua generasi penerus, khususnya para pemuda/i Batak Toba untuk kembali membaca dan bersilahturahmi dengan budaya dan kebudayaan Batak Toba.

“Sebab di dalam kebudayaan Batak Toba ini telah dituangkan segala tatacara dalam menghadapi kebahagian, kesedihan, rezeki termasuk kehilangan kedalam praktik-praktik kesenian, alat/benda, tarian, kuliner dan lain sebagainya,” ungkapnya.

Ia menambahkan, salah satu bentuk tersebut kemudian dapat dilihat dalam puisinya yang berjudul, “ Saur Matua” (meninggal setelah memiliki cucu dari semua anak); disehamparan kampung dan disebarisan gununggunung//telah kulipat senyummu dalam almari keyakinan//mungkin alam memisahkan kita dalam jarak//yang tak mungkin bisa diterjemahkan//tapi musim masih saja mengajariku cara menemukanmu.

Frans sederhana, puisi itu bercerita tentang kehidupan seorang tua yang telah menuntaskan kewajiban kehidupannya sebagai ibu/bapak yang telah merawat dan menikahkan anak-anaknya. Tidak hanya itu, orang tua tersebut juga telah menuntaskan hidupnya sebagai Oppung (kakek/nenek) dari cucu-cucunya dan tidak lama lagi akan meninggal dunia.

Ketika orang tua tersebut meninggal dunia, maka anak-anaknya atau bahkan cucu-cucunya tidak lagi menumpahkan kesedihan secara berlarut-larut. Sebab, sebagai orang tua dan Oppung, seseorang itu telah ‘berhasil’ menunaikan kewajiban sekaligus kebahagaiannya. Dengan kata lain, disamping bersedih para keturunannya wajib atau harus memberikan penghormatan kepada orang tuanya dengan cara memberikan upacara adat Saur Matua.

“Dan dengan upacara adat Saur Matua untuk oppung inilah saya kemudian kembali menemukan dan menghidupkan oppung saya dalam hati. Dengan demikian, saya tidak lagi menangis berlarut-larut, karena oppung sudah hidup di hati saya dan berbahagia dalam kerjaaan surga,” tandasnya.

Praktik-praktik kesenian tradisi Batak Toba lainnya juga bisa ditemukan diantara puisi-puisi Frans Ekodhanto Purba. Dengan puisi-puisi yang disuguhkan itu, secara langsung mapun tidak langsung Frans ingin para pembaca mengenal dan bersilahturahmi dengan tradisi serta kebudayaan Batak Toba.***

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here