Datuk Mawi, Pemburu 150 Harimau yang Kini Bertobat

HUMAS.ID - MUSI RAWAS UTARA - Datuk Mawi merupakan sosok yang memiliki perjalanan panjang dan penuh perubahan dalam kisah konservasi Harimau Sumatera. Selama puluhan tahun, ia dikenal sebagai pemburu harimau di sekitar kawasan Taman Nasional Kerinci Seblat (TNKS).

Dalam rentang 1972 hingga 2017, Datuk Mawi mengaku telah membunuh lebih dari 150 ekor Harimau Sumatera. Namun, perjalanan tersebut kemudian berubah. Ia meninggalkan aktivitas perburuan dan memilih terlibat dalam berbagai kegiatan yang berkaitan dengan perlindungan satwa serta kawasan hutan.

Kisah Datuk Mawi menjadi perhatian ketika ia hadir dalam rangkaian peringatan Global Tiger Day atau Hari Harimau Sedunia di kawasan Hutan Madapi, Desa Pal VIII, Kecamatan Bermani Ulu Raya, Kabupaten Rejang Lebong, Bengkulu, pada Juli 2024.

Datuk Mawi Memulai Perburuan Sejak 1972

Datuk Mawi berasal dari Dusun KNPI, Desa Muara Tiku, Kecamatan Karang Jaya, Kabupaten Musi Rawas Utara, Sumatera Selatan. Kawasan tempat tinggalnya berada di sekitar habitat Harimau Sumatera yang termasuk dalam bentang alam Taman Nasional Kerinci Seblat.

Pada awalnya, aktivitas perburuan yang dilakukan Datuk Mawi berkaitan dengan kondisi masyarakat di sekitar tempat tinggalnya. Ketika itu, sejumlah warga menghadapi serangan harimau karena permukiman mereka berbatasan langsung dengan kawasan hutan.

Situasi tersebut membuat masyarakat membutuhkan orang yang berani masuk ke hutan untuk mencari harimau yang dianggap mengancam keselamatan warga dan ternak.

Datuk Mawi kemudian mengambil peran tersebut.

Ia mulai memburu Harimau Sumatera pada 1972. Pada masa awal perburuan, perlengkapan yang digunakannya tergolong sederhana. Ia mengandalkan parang dan sebatang kayu untuk menghadapi satwa buruannya.

Seiring waktu, aktivitas yang pada awalnya berkaitan dengan ancaman terhadap masyarakat itu berkembang menjadi perburuan yang memiliki nilai ekonomi.

Hasil Buruan Mulai Memiliki Nilai Ekonomi

Pada periode awal, Datuk Mawi mengaku tidak menjual hasil buruannya. Harimau yang berhasil dibunuh hanya dikuburkan.

Kondisi kemudian berubah setelah ia mengenal perdagangan bagian tubuh harimau. Kulit, taring, dan tulang menjadi bagian yang memiliki nilai ekonomi.

Sumber pemberitaan mengenai kisahnya menyebut hasil buruan pertama yang dijual Datuk Mawi bernilai sekitar Rp30 ribu. Nilai ekonomi tersebut kemudian membuat aktivitas perburuan semakin berkembang.

Dalam perjalanannya, Datuk Mawi mulai menggunakan jerat dari kawat seling. Ia juga menjalani aktivitas perburuan seorang diri di kawasan hutan.

Waktu yang dihabiskan di dalam kawasan hutan tidak sebentar. Ia dapat berada di hutan selama berbulan-bulan hingga sekitar satu tahun dengan membawa perlengkapan sederhana.

Pengalaman tersebut kemudian membuat namanya dikenal sebagai salah satu pemburu harimau yang berpengalaman di kawasan TNKS.

Datuk Mawi Mengaku Membunuh Lebih dari 150 Harimau

Selama sekitar 45 tahun, sejak 1972 hingga 2017, Datuk Mawi mengaku telah membunuh tidak kurang dari 150 ekor Harimau Sumatera.

Sekitar 20 ekor di antaranya disebut dibunuh ketika dirinya belum mengenal pembeli. Artinya, pada masa tersebut hasil perburuan belum memberikan keuntungan ekonomi kepadanya.

Aktivitas perburuan akhirnya berhenti pada 2017.

Menurut laporan ANTARA, Datuk Mawi meninggalkan perburuan setelah mendapatkan pendekatan dan pembinaan dari Yayasan Konservasi Satwa Lingkar Inisiatif Indonesia. Setelah berhenti berburu, ia kemudian dilibatkan dalam kegiatan perlindungan Harimau Sumatera.

Perubahan tersebut menjadi titik penting dalam perjalanan hidup Datuk Mawi.

Datuk Mawi Mulai Membantu Konservasi

Setelah meninggalkan perburuan, Datuk Mawi tidak kemudian menjauh dari kawasan hutan. Sebaliknya, pengalaman panjangnya justru dimanfaatkan untuk mendukung kegiatan konservasi.

Ia dilibatkan dalam patroli perlindungan harimau dan kegiatan penyisiran jerat di kawasan TNKS.

Pengalaman sebagai mantan pemburu membuat Datuk Mawi mengetahui sejumlah karakteristik kawasan serta pola yang digunakan dalam aktivitas perburuan. Pengetahuan tersebut kemudian dapat digunakan untuk membantu menemukan berbagai ancaman terhadap satwa liar.

Selain melakukan patroli, Datuk Mawi juga berusaha mengajak pemburu lainnya untuk meninggalkan aktivitas perburuan.

ANTARA melaporkan bahwa Datuk Mawi telah membantu mengajak sekitar 20 hingga 25 pemburu untuk berhenti berburu. Para mantan pemburu tersebut kemudian bergabung dalam kelompok yang diberi nama Jago Imau.

Langkah tersebut memperlihatkan bahwa upaya konservasi tidak hanya dilakukan melalui perlindungan kawasan, tetapi juga melalui pendekatan kepada masyarakat yang berada di sekitar habitat satwa.

Perburuan Menjadi Ancaman bagi Harimau Sumatera

Taman Nasional Kerinci Seblat merupakan salah satu kawasan penting bagi keanekaragaman hayati di Pulau Sumatera. Kawasan ini membentang di empat provinsi, yakni Sumatera Selatan, Jambi, Bengkulu, dan Sumatera Barat.

Selain Harimau Sumatera, kawasan TNKS juga menjadi habitat berbagai satwa lain, seperti badak Sumatera, gajah Sumatera, tapir, beruang madu, dan macan dahan.

Karena itu, keberadaan jerat dan aktivitas perburuan menjadi ancaman serius bagi satwa liar.

Kegiatan patroli dan pembersihan jerat dilakukan untuk mengurangi risiko satwa terkena perangkap. Upaya tersebut juga menjadi bagian dari strategi perlindungan habitat dan satwa yang berada di kawasan TNKS.

Dalam konteks inilah pengalaman Datuk Mawi sebagai mantan pemburu kemudian diarahkan untuk mendukung kegiatan konservasi.

Dari Pemburu Menjadi Mitra Konservasi

Perubahan peran Datuk Mawi menjadi salah satu kisah yang menarik dalam upaya perlindungan Harimau Sumatera.

Setelah puluhan tahun menjalani aktivitas perburuan, ia kemudian memilih berhenti dan membantu menjaga satwa yang dahulu menjadi buruannya.

Pada peringatan Hari Harimau Sedunia 2024, Gubernur Bengkulu juga mengusulkan agar mantan pemburu yang telah meninggalkan aktivitas tersebut dapat dilibatkan sebagai mitra konservasi atau Duta Harimau. Datuk Mawi disebut sebagai salah satu sosok yang dapat menjalankan peran tersebut.

Pendekatan seperti ini menunjukkan pentingnya keterlibatan masyarakat dalam menjaga kawasan konservasi.

Bagi Datuk Mawi, meninggalkan perburuan juga menjadi bagian dari pertobatan atas aktivitas yang pernah dilakukannya. Kini, ia berusaha membantu membersihkan jerat harimau, mengikuti kegiatan patroli, serta mendorong pemburu lain agar meninggalkan aktivitas tersebut.

Perjalanan Datuk Mawi akhirnya berubah dari seorang pemburu menjadi bagian dari upaya perlindungan Harimau Sumatera.

Kisah tersebut sekaligus menunjukkan bahwa pengalaman masyarakat di sekitar kawasan hutan dapat diarahkan menjadi kekuatan dalam konservasi. Dengan pendekatan yang tepat, mantan pelaku perburuan dapat dilibatkan untuk membantu mengurangi ancaman terhadap satwa dan menjaga kelestarian habitatnya.

Harimau Sumatera sendiri menghadapi tekanan dari berbagai aktivitas manusia, termasuk perburuan dan kerusakan habitat. Karena itu, perlindungan satwa membutuhkan kerja sama antara pengelola kawasan, masyarakat, organisasi konservasi, dan berbagai pihak lainnya.

Perubahan yang dilakukan Datuk Mawi menjadi salah satu contoh bagaimana perjalanan seseorang dapat beralih dari aktivitas yang mengancam satwa menjadi keterlibatan dalam upaya perlindungannya.

Sumber:

Artikel ini disusun ulang berdasarkan penelusuran terhadap sejumlah sumber pemberitaan yang membahas perjalanan Datuk Mawi, perburuan Harimau Sumatera, serta kegiatan konservasi di kawasan Taman Nasional Kerinci Seblat.

  1. Harian Bengkulu Ekspress — “Kisah Datuk Mawi (65) Si Penakluk Harimau Sumatera: Bertobat Setelah Bunuh Lebih dari 150 Harimau”, 28 Juli 2024. Sumber ini menjadi rujukan utama untuk kronologi perjalanan Datuk Mawi sebagai pemburu sejak 1972 hingga berhenti pada 2017. Harian Bengkulu Ekspress — Kisah Datuk Mawi

  2. ANTARA News — “Gubernur Bengkulu usulkan mantan pemburu menjadi Duta Harimau”, 26 Juli 2024. Sumber ini memuat informasi mengenai keterlibatan Datuk Mawi sebagai mantan pemburu yang kemudian menjadi mitra konservasi serta upaya mengajak pemburu lainnya berhenti berburu. ANTARA News — Gubernur Bengkulu Usulkan Mantan Pemburu Menjadi Duta Harimau

  3. ANTARA News — “Menyelamatkan harimau Sumatera dari ancaman kepunahan”, 29 Juli 2024. Sumber ini digunakan untuk informasi mengenai kondisi Harimau Sumatera, kawasan TNKS, kegiatan patroli, pembersihan jerat, serta keterlibatan Datuk Mawi dalam kegiatan konservasi. ANTARA News — Menyelamatkan Harimau Sumatera dari Ancaman Kepunahan

Lebih baru Lebih lama

Formulir Kontak